brakbrak-brukbruk

Standar

Nguntul nyan cening mejalan, sangkaning ketanjunge di beten tongosne. selegang, eda buin cening kipak kipek wireh cening asing ja maikuh. eda masi cening bas ganjang majalan, nyanan aes telah payas cening. bedikang kanggoang mebaban apang tusing baat pejalan ceninge.

eda cening bas merutu tekenin pejalan ceninge, bisang ragan cening sandalin cokore pang asing babak ban duine. yan saget peteng pangliatan ceninge, suwudang maksa ban damar. sareang kanggoang malu kejep. kanggoang eda bas kangkang mejalan cening.

Capung Kok

Standar

Tung tung tung tung………… Munyin kulkul bulus.
– Blatuk – blatuk, ngudiang ngukul bulus?
– Ne capung kok ngabe tumbak.
– Capung kok ngudiang ngabe tumbak?
– To I kunang-kunang ngabe api.
– Kunang-kunang ngudiang ngaba api?
– To I beduda ngurek mambane.
– Beduda ngudiang urek mambane?
– Ne I sampi meju dini.
(—–)
(Kertayasa)

Sekilas mengenai cuplikan cerpen lama atau lawas ini mngandung makna yang begitu mendalam pada kehidupan. Makna inilah alasan kenapa orang tua dulu selalu menyuguhi SATUA pada anak atau cucunya. Bukan dibekali sinetron glamor dan arogan begitu juga terlalu ironis spt saat saat ini.

Satua ini sangat sederhana, nyata, memiliki level pemahaman  yg fleksible. Artinya, contoh; jika seorang anak kecil yg mendengarnya, kita bisa beri dia pemahaman bahwa semua yg ada di dunia ini memiliki hubungan harmonisasi. Nah ketika anak ini mndengarkan ceritanya berulang kali, maka dia tidak hanya akan mengerti tetapi mengalami pemahaman hingga sampae pada pembentukan atitude positive dari crrita yg dimengrrtinya.

Begitu juga ktika anak ini tumbuh dewasa. Dia bisa menggali lbih jauh lagi maknany, contoh; 1) pemahaman siklus kehidupan. 2) pemahaman sebab akibat. 3) bahkan bisa diterapkan dalam pelurusan masalah  dan 4) masih banyak lagi.

Dari sedikit ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa; isi cerita pendek atau satua ini bermuara pada pembentukan karakter anak. Lebih sederhananya lagi, penanaman pemahaman2 positive dari usia dini akan sangat mmbantu pembentukan attitude positive pd anak tersebut nantinya. Terlebih lagi sudah terbukti bahwa faktor lingkungan memiliki andil cukup besar dlm pembentukan karakter.
(I wayan kertayasa)

Semoga bermanfaat.

Capung Kok

Standar

Tung tung tung tung………… Munyin kulkul bulus.
– Blatuk – blatuk, ngudiang ngukul bulus?
– Ne capung kok ngabe tumbak.
– Capung kok ngudiang ngabe tumbak?
– To I kunang-kunang ngabe api.
– Kunang-kunang ngudiang ngaba api?
– To I beduda ngurek mambane.
– Beduda ngudiang urek mambane?
– Ne I sampi meju dini.
(—–)
(Kertayasa)

Sekilas mengenai cuplikan cerpen lama atau lawas ini mngandung makna yang begitu mendalam pada kehidupan. Makna inilah alasan kenapa orang tua dulu selalu menyuguhi SATUA pada anak atau cucunya. Bukan dibekali sinetron glamor dan arogan begitu juga terlalu ironis spt saat saat ini.

Satua ini sangat sederhana, nyata, memiliki level pemahaman  yg fleksible. Artinya, contoh; jika seorang anak kecil yg mendengarnya, kita bisa beri dia pemahaman bahwa semua yg ada di dunia ini memiliki hubungan harmonisasi. Nah ketika anak ini mndengarkan ceritanya berulang kali, maka dia tidak hanya akan mengerti tetapi mengalami pemahaman hingga sampae pada pembentukan atitude positive dari crrita yg dimengrrtinya.

Begitu juga ktika anak ini tumbuh dewasa. Dia bisa menggali lbih jauh lagi maknany, contoh; 1) pemahaman siklus kehidupan. 2) pemahaman sebab akibat. 3) bahkan bisa diterapkan dalam pelurusan masalah  dan 4) masih banyak lagi.

Dari sedikit ulasan di atas dapat disimpulkan bahwa; isi cerita pendek atau satua ini bermuara pada pembentukan karakter anak. Lebih sederhananya lagi, penanaman pemahaman2 positive dari usia dini akan sangat mmbantu pembentukan attitude positive pd anak tersebut nantinya. Terlebih lagi sudah terbukti bahwa faktor lingkungan memiliki andil cukup besar dlm pembentukan karakter.
(I wayan kertayasa)

Semoga bermanfaat.